WpMag

Jumat, 03 Juni 2011

Rendahnya Konsumsi Ikan Yogyakarta

Rendahnya Konsumsi Ikan Yogyakarta


Sudah menjadi isu yang lama dan bertahun-tahun bahwasanya Yogyakarta adalah provinsi yang tingkat konsumsi ikannya terbilang rendah. Entah mengapa provinsi yang merupakan tujuan berbagai kalangan untuk menuntut ilmu ini memiliki tingkat konsumsi ikan yang rendah. Kota yang biasa disebut kota pelajar ini terdengar miris karena sebenarya dihuni oleh mereka yang memiliki pendidikan yang cukup. Bukan itu saja, letaknya yang strategis dan didukung oleh sumberdaya alam yang melimpah khususnya perikanan tak berimbang dengan konsumsi ikannya. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi???. Apakah ada faktor kuat hingga sumberdaya alam tak diimbangi dengan pemanfaatan yang baik???.
Mengutip salah satu media elektronik akhir-akhir ini, menyebutkan bahwasanya konsumsi ikan masyarakat Yogya paling rendah secara nasional. Rata-rata tiap orang hanya mengkonsumsi 9,7 kilogram (kg) per/kapita/tahun. Angka itu masih sangat jauh di bawah angka nasional yang mencapai 29,8 kg/kapita/tahun. Hasil ini rasanya membuat kita sejenak berfikir, apa yang terjadi di masyarakat. Sumberdaya alam yang melimpah di pantai selatan dan banyaknya pembudidaya ikan di daerah sleman maupun kabupaten lain kayaknya tak berdampak pada konsumsi ikan masyarakat.
Mengutip dari direktorat jenderal pemasaran dan pengolahan hasil perikanan, menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat konsumsi ikan di Indonesia, antara lain (1) kurangnya pemahaman masyarakat tentang gizi dan manfaat protein ikan bagi kesehatan dan kecerdasan; (2) rendahnya suplai ikan, khususnya ke daerah-daerah pedalaman akibat kurang lancarnya distribusi pemasaran ikan; (3) belum berkembangnya teknologi pengolahan/pengawetan ikan sebagai bentuk keanekaragaman dalam memenuhi tuntutan selera konsumen; dan (4) sarana pemasaran dan distribusi masih terbatas baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Jika melihat penjelasan diatas tampaknya point pertama bukanlah menjadikan alasan msyarakat yogya tingkat konsumsinya rendah. Hal ini mengingat letak geografis provinsi yogya yang berada di Jawa dan merupakan tempat para pelajar dari pelosok negeri menimba ilmu. Apakah mungkin tingkat pemahaman mereka tentang manfaat dan kandungan gizi pada ikan rendah???. Jika dilihat dari hasil yang didapat, bahwasanya Maluku yang letak geografisnya jauh dari pusat negara dan tingkat pendidikannya tentu saja lebih rendah dari yogya memiliki tingkat konsumsi ikan mencapai 51 kg per kapita per tahun. Jika itu dijadikan perbandingan mengapa masyarakat jogya tingkat konsumsinya rendah maka tidaklah mungkin.
Faktor kedua yang menyebutkan kurang lancarnya distribusi pemasaran kedaerah bukanlah menjadi alasan yang kuat. Hal ini mengingat sumberdaya perikanan yang ada di yogya sangat melimpah dan cukup mudah diakses. Sumberdaya yang sangat melimpah dan letaknya yang tidak jauh maka sepatutnya menjadi faktor pendukung konsumsi ikan. Infrasturturnya pun telah memadai. Di pantai selatan sudah ada pelabuhan dan juga pelelangan ikan. Di berbagai daerah juga banyak pembudidaya ikan, maka bukanlah alasan ini yang menyebabkan rendahnya tingkat konsumsi ikan rendah.
Mungkin point ketiga ini memberikan alasan yang cukup logis, bahwasanya kurang adanya pengolahan/ pengawetan sebagai keragaman produk perikanan. Secara nasional memang benar, dimana keragaman produk turunan dari ikan sangat menim, sehingga masyarakat kurang begitu minat untuk mengkonsumsinya. Sedangklan point terakhir yang menyebutkan pemasaran dan distribusi yang terbatas baik kuantitas maupun kualitasnya ini bukan alasan yang sangat mendukung rendahnya konsumsi ikan. Mengingat daerah yogya yang luas daerahnya kecil dan aksesnya yang cukup baik malah akan mendukung distribusi. Masalah kuantitas hasil produksi ikan di jogaja memang tidak begitu tinggi, hanya mengandalkan hasil dari budidaya maupun panengkapan di pantai selatan. Karena tidak mencukupi, maka pasokan ikan konsumsi dari luar daerah selalu ada. Selain itu infrastruktur yang sangat memadai akan mendukung distribusi ikan yang akan masuk ke yogya. Seperti ikan lele yang berada di pasar-pasar yogya, kebanyakan dipasok dari pembudidaya luar daerah seperti Boyolali, Tulungagung, dll. Khusus dari Boyolali pasokan ikan lele yang masuk ke yogya tiap hari diperkirakan 7 ton. Jumlah ini terbilang tinggi, belum lagi pasokan dari pembudidaya lain. Jadi ini bukanlah hal yang menjadi pendukung rendahnya tingkat konsumsi.
Kalau beberapa point diatas bukanlah yang menyebabkan rendahnya tingkat konsumsi ikan di Yogya, lalu apa yang menyebabkannya. Mungkin ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan sulit untuk dirubah yaitu kebiasaan masyarakat dan minimnya produk olahan hasil perikanan . Kebiasaan masyarakat atau yang biasa disebut budaya masyarkat menjadikan salah satu faktor penting dalam rendaahnya konsumsi ikan di yogya. Masyarakat yogya yang memiliki kebiasaan makan dengan lauk tempe atau yang berasal dari kedelai menjadikan ikan bukanlah menu yang favorit. Kebiasaan yang turun temurun ini memang bagus, karena kandunagn gizi tempe juga baik dimana memiliki protein yang tinggi. Namun jika dibandingkan dengan ikan, kandungan proteinnya atupun gizi yang lain jauh berbeda. Kita tahu ikan memiliki kandungan protein yang tinggi, selain itu Omega 3 yang sangat baik untuk membantu dalam mencerdaskan otak.
Jika memang faktor kebiasaan dan pola pikir masyarakat yogya yang menganggap ikan bukanlah makanan yang favorit lantas bagaimana mengatasinya. Ini adalah masalah pola pikir, jadi sulit untuk mengubahnya. Maka yang sangat diperlukan adalah proses perubahan pola pikir masyarakat secara berkelanjutan dan dari semua kalangan mulai orang tua, anak muda, dan bahkan anak-anak. Penyulahan tentang pentingnya manfaat ikan untuk tubuh serta kandungan gizi yang tinggi untuk kecerdasan maka harus segera dilakukan. Penyululuhan yang intensif akan pentingnya makan ikan sangat diperlukan guna merubah pola pikir masyarakat. Tak hanya itu saja dibidang pendidikan sebaiknya diberikan materi tambahan ataupun pengetahuan tentang manfaat mengkonsumsi ikan. Dengan penjelasan di berbagai forum untuk semua kalangan maka akan sangat diharapkan dapat meningkatkan minat mengkonsumsi ikan.
Berbagai penyuluhan dan penjelasan kepada masyarakat dapat dilakukan oleh dinas terkait seperti dinas perikanan. Namun alangkah baiknya jika orang-orang yang berkepentingan dan berkompeten mampu digandeng berjalan bersama untuk mewujudkan itu semua. Bisa akademisi, lembaga sosial, ataupun dinas-dinas terkait. Dengan kerjasama semua pihak maka diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat sehingga dapat meningkatkan konsumsi ikan. Selain itu bagi para akademisi seperti mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengabdian kepada masyarakat. Mereka dapat mengetahui dan peka terhadap apa yang terjadi di lingkungan. Sehingga peran mahasiswa tidak hanya menuntut ilmu di kampus dan mendapatkan nilai baik, namun jauh dari itu mereka dapat berperan aktif dalam sosial kemasyarakatan. Hal yang sangat penting, mereka juga dapat mengetahui keadaan masyarakat secara langsung, tidak hanya mendengarkan ataupun melihat dari media.
Bukan kebiasaan masyarakat saja yang harus dirubah, namun pengolahan hasil perikanan menjadi suatu produk turunan yang beragam akan sangat baik. Pengolahan hasil perikanan menjad produk baru maka akan memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakata. Apa lagi jika produk yang dibuat sesuai dengan culture (kebudayaan) masyarakat yogya. Bukan tidak mungkin mereka akan sangat tertarik untuk mengkonsumsinya. Disini yang sangat diharapkan adalah peran para pemilik rumah makan ataupun produk jajan olahan memberikan variasi pruduk hasil perikanan yang menarik dan enak utnuk dikonumsi semua kalangan. Pemerintah khususnya dinas perikanan alangkah baiknya jika memberikan dorongan dan pelatihan untuk meningkatkan produktifitas dan kreativitas para produsen untuk mengembangkan hasil olahan ikan. Dengan begitu maka akan didapatkan output yang baik dari semua pihak.
Kini yang terpenting dinas perikanan sebagai induk yang memiliki kewenangan dan bertanggung jawab penuh dapat mengkoordinasikan semua pihak. Sehingga apa yang tengah terjadi di masyarakat dapat segera terselesaikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar