WpMag

Kamis, 11 Juni 2015

INTROSPEKSI DIRI

INTROSPEKSI DIRI

Kita mungkin teralu bangga dengan gelar mahasiswa, dan semakin bangga lagi ketika telah menjadi seorang sarjana. Merasa jumawa dengan gelar yang telah dimiliki. Sudah pantaskah kita disebut mahasiswa, atau lebih dari itu sudah layakkah kita disebut seorang sarjana. Mengapa kadang kita ingin menceritakan banyak hal mengenai dunia kampus kepada semua orang. Memberikan jawaban dari setiap pertanyaan yang dilontarkan pada kita. Seolah kita telah ahli dibidangnya. Patutkah itu semua disematkan pada diri kita.

Marilah kita intropeksi diri, merenungkan apakah sudah layak diri kita disebut demikian. Setiap kali berkumpul dengan masyarakat kita menceritakan dunia kampus yang menurut kita “Wah” itu. Kita menjawab pertanyaan dengan diksi yang tinggi sehingga sulit dipahami oleh mereka. Apakah itu cermin dari seorang terpelajar?.

Teringat dengan apa yang dituliskan Pram dalam Novelnya Bumi Manusia, “Seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”. Sudahkah kita berlaku adil pada diri kita. Berlaku jujur tentang diri kita. Atau mungkin kita sedang menghias topeng-topeng pencitraan biar semua manusia kagum pada kita. Apakah pantas kita melakukan itu semua.


Kita sendirilah yang tahu mengenai diri kita. Sudah saatnya kita berlaku adil dan jujur terhadap diri kita. Sudah waktunya kita membangun diri, tanpa harus menghias topeng pencitraan dengan bumbu retorika. Apa yang telah kita bangun dalam landasan keadilan dan kejujuran dalam diri, akan terpancar dan semua orang bisa merasakannya. Tak usah kita mengharapkan pujian atas apa yang kita lakukan, dengan rendah diri. Kita tak memiliki daya untuk melakukan setiap kebajikan kecuali dengan pertolongan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar