WpMag

Sabtu, 03 Maret 2012

KOPI DAN AKTIFITAS MANUSIA


KOPI DAN AKTIFITAS MANUSIA
1330789483542959368


Jika engkau bangun pagi kemudian keluar dari rumah. Maka yang engkau rasakan hanyalah hawa dingin yang membungkus pagi. ApalAgi jika sekarang bulan juli-agustus. Inilah masA yang dimaksud oleh masyarakat adalAh musim mbediding. Pergantian musim ini, mengakibatkan disiang hari panasnya minta ampun, hingga memecahkan kepala. Namun lain halnya dimalam hari yang dingin tak karuan hingga masuk kedalam tulang rusuk rawan.
 Matahari yang mulai menyakar cakrawala. Menembus sela-sela dedaunan. Embun pagi takut dan turun dan membasahi daun padi yang mulai menguning. Sungguh kasian sang padi harus menanggung berat biji padi dan embun. Namun tak mengapalah karena ini adalah hukum alam. Sementara para pejuang yang menghidupi rakyat Indonesia telah siap mencangklong cangkul dipundaknya. Namun apakah engkau tahu, sebenarnya sebelum mereka menginjakkan kakinya di tanah berlumpur itu?. Mungkin engkau tak kan tahu, karena ini urusan keluarga.
Jika engkau tahu bapakku, iya bapakku yang seorang petani. Petani gurem pantasnya. Karena apa, iya memang karena lahannya sempit, kecil dan terhimpit oleh zaman, oleh cakrawala bangunan yang menerjang membabat habis lahan pekarangan. Jika engkau pernah tahu apa itu Marheins. Maka tak perlu lagi aku menjelaskannya. Namun ijinkan aku memberikan definisi sedikit mengenai apa itu marhens.
Aku pernah mengikuti kuliah dosenku. Beliau yang memang dulunya seorang aktifis, tahu betul seluk beluk bangsa ini. tahu betul apa itu marheins. Marheins, setahuku yang aku dapatkan dari beliau adalah suatu kaum (masyarakat) dimana mereka hanya memiliki lahan sempit, dan menggarap lahan tersebut untuk kehidupannya sendiri. Dan kadang lahan tersebut tak mampu menopang keluarganya. Mungkin itu adalah definisi dari sudut pandang lain yang aku tunjukkan.
Sebenarnya aku tak mau jauh-jauh nyeleweng dari apa yang ingin aku tuliskan. Karena aku takut, tulisanku menjadi rancu dan maksud hatiku tak mengena. Mengenai apa yang dilakukan bapakku atau yang biasa aku panggil Romo sebelum terjun ke lumpur?. Beliau selalu menyedukan secangkir kopi dengan gelas paling kecil yang keluarga kami punya. Iya gelas kecil. Jika aku tanya alasannya cukup singkat. Soalnya kalau gelas besar terlalu banyak, kalau gelas kecil sedikit memang. Kalau orang kampungku menyebutnya “setengah kurang”.
Kenapa kopi yang diminum sebelum ke sawah. Aku juga gak tahu. Setahuku memang masyarakat kampungku, atau bahkan mayarakat kotaku ini semua hobi minum kopi. Jika memang ia adalah seorang laki-laki, dan mudah bergaul maka aku jamin ia pernah mencicipi kopi diwarung. jika ia belum pernah minum kopi diwarung, bisa dipastikan bahwa ia adalah seorang yang kuper. Karena apa, bagi masyarakat kotaku (Tulungagung) kopi adalah segalanya bagi kaum pria. tua muda, berpendidikan ataupun pengangguran, kopi adalah salah satu menu wajib yang harus terpenuhi setiap harinya. Mungkin aku terlalu mengagung-ngagungkan masalh kopi ini. jika dibandingkan dengan kebiasaan masyarakat melayu aku juga gak tahu perbandingannya.
Pastinya jika engkau bertolak kekotaku, engkau akan mendapati warung kopi tersebar disepanjang jalan, tersebar digang-gang kecil, diperempatan, Di alun-alun kota. Semua ada dan disitulah biasanya anak muda sekedar nongrong menghabiskan waktu.
Jika engkau tanya aku warung kopi mana yang terkenal di Tulunagung, maka aku menjawabnya warung kopi “Mak Tin”. Jika engkau tahu, disinilah warung kopi yang bukanya sejak pagi, jam 6  pagi kalau gak salah. Dan tutupnya pukul 11 atau 12 malam. Dan engkau tahu, tak pernah warung kopi ini sepi. Dipagi hari, yang biasanya ngopi disana adalah mereka para anak SMA, semakin siang para seles, para pengangguran dan bahkan para pekerja.
Kenapa disana ramai?mungkin engkau bertanya begitu padaku. Disanalah kopi dengan harga merakyat. Engkau bawa uang seribu rupiah akan mendapatkan kopi manis. Tapi belinya jangan kopi. Disana lebih unik lagi. Nama kopi manis, biasanya disebut “manis”. Sedangkan kopi susu, engkau hanya merogoh kocek seribu limaratus rupiah. Sekali lagi jangan kau sebut kopi susu namun sebutlah “campur”. Itulah nama yang diberikan oleh orang-orang disana. Tak ada kopi manis yang ada hanya “manis” tak ada kopi susu yang ada hanya “campur”. Mengenai penyebutna itu, aku juga belum mengetahui seluk-beluknya. Namun itulah adanya, gak usah kau risaukan masalah itu. Cukup murah kan?.
Itulah salah satu hal yang ingin aku tuliskan mengenai kopi dan aktifitas manusia.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar