WpMag

Selasa, 24 Juli 2012

ATLET LARI


ATLET LARI

Jika mendengar suara itu, pasti semua orang akan berlari ketakutan seakan ia diburu setan. Kami takut tak kepalang karena itu akan menjadi mala petaka besar. Suara itu terdengar beberapa kali, dan semua yang mendengar itu pasti tahu, bahwa itu adalah suara lonceng tanda masuk sekolah. Lonceng keramat yang menjadi musuh bagi setiap siswa yang datang telat. Lonceng yang mengantarkan kami kedalam sebuah perbatasan waktu. Memang sekolah kami masih sangat tradisional untuk masalah yang sepele seperti ini. Namun bagi para siswa tak mengapa asalkan biaya untuk sekolah tak tinggi sehingga dapat dijangkau untuk semua masayarakat pesisir. Hanya ada satu sekolah yang ada di kecamatan Sadeng dan itupun memprihatinkan. Cukup jauh jaraknya jika dari kampung kami.
Suara lonceng terdengar bertalu-talu dari tempatku berjalan. Langsung aku terperanjat dan berlari menuju gerbang. Kira-kira jarakku lari dari gerbang sekolah sekitar dua ratus meter. Nafasku engos-engosan, Jantung berdetak lebih kencang bagaikan gerakan piston motor yang dipacu kencang oleh pengendaranya. Setiba di depan gerbang Pak Darmo selaku guru yang paling keras dan disiplin sudah siap berdiri didepan gerbang. Sembari tangan kananya memegang sebuah koran yang telah digulungnya membentuk sebuah balok kecil. Jika dilihat mungkin lebih mirip lagi dengan lontong kukus.  Yang membedakan, kalau lontong enak dimakan, kalau yang di pegang pak Darmo, jauh dari yang terbayang, akan sangat sakit jika mengenai badan. Jantungku semakin terpacu kencang seakan tak ada waktu untuk diam. Dalam hati, “ah aku terlambat lagi, Ah hukuman apa yang akan aku terima”. Kumis Pak Darmo yang panjangnya menutupi hidung cukup menggetarkan jantungku hingga aku mati kaku. Kumis yang menandakan kedikdayaannya sebagai seorang guru yang dianggap killer di sekolah kami. Kumis inilah perlambang kekuatan pak Darmo. Jika beliau mencukur kumisnya, terlihat wajah asli nan lugu bagaikan seorang perjaka kemarin sore. Tak ada yang mengira hanya dibalik kumisnya itulah ia menyimpan kekuatan killer-nya.
“Kamu, lagi….kamu lagi,” dengan wajah geram sembari berkacak pinggang
“Ma…Maaf Pak,” jawabku dengan penuh rasa takut
“Setiap hari maaf, setiap hari telat. Memangnya ini sekolah bapakmu.?” Dengan nada tinggi sembari memainkan koran yang digulungnya tadi
Tubuhku kaku, mulutku sulit untuk digerakkan, tanganku terasa dingin dan gemetaran. Wajah Pak Darmo terlihat sangat seram, sangar seperti Van Daime bintang film Holiwood itu. Tubuhnya yang kekar cukup tepat jika dijadikan guru kedisiplinan sekolah kami.
Sebenarnya Pak Darmo dulu ialah bekas anggota TNI. Ketika beliau berusia 35 tahun, beliau ditugaskan dalam operasi militer di Poso. Ketika itu Poso sedang dihadapkan pada konflik SARA. Terjadi permusuhan antara berbagai golongan. Pada operasi tersebut, nasib naas menimpa Pak Darmo. Pada saat patroli beliau tertembak tangannya terlihat bekas luka tembak di tangan kiri dengan dihiasi beberapa bekas jahitan. Setelah kejadian itu, beliau mengundurkan diri dari keanggotaan TNI dan mulai untuk membantu sekolah kami ini. Pada dasarnya pendidikan beliau adalah sebagai guru. Beliau menamatkan sekolah guru di Surabaya. Namun setelah lulus, bukannya menjadi guru beliau malah mencoba mendaftar sebagai anggota TNI. Usianya pada waktu itu masih mencukupi dan beliau mendaftar sebagai calon Tantama. Salah satu tingkatan anggota TNI yang paling bawah dan biasanya ditempatkan di garis depan saat operasi militer.  Beliau merupakan guru yang sangat disiplin. Selalu datang paling pagi dari siapapun di sekolah ini. Jadi pantaslah jika beliau marah ketika tahu anak muridnya yang tidak disiplin.
Pak Darmo terus mengoceh didepanku dan beberapa teman lain yang berjejer bak ikan asin yang sedang dijemur diterik matahari. Terdengar suara sepatu yang bergerak kearah kami.  Suaranya semakin dekat dan berhenti tepat disamping kami berdiri.
“Kamu, kenapa telat?” tanya Pak Darmo
“Taaa..taaadi”. sembari tangannya menggaruk-garuk kepala yang merupakan kebiasaannya sedari dulu. Belum sempat selesai Pak Darmo menyeletuk memotong perkataannya
“Alasan saja.” dengan nada tinggi
Dengan penuh penasaran mataku kulirikan kesamping kanan, terlihat sosok Gemol yang telat. Tubuhnya cukup kekar, namun agak gendut. Raupan mukanya persis petinju dunia yaitu Muhammad Ali. Kulitnya sawo matang, dan semakin matang saja karena setiap hari dijemur diterik matahari. Ia tak ubahnya aku, tubuhnya mulai gemeteran, terlihat kaki yang tak kuat menyangga tubuh besarnya. Kakinya seperti pohon bambu yang digoyang oleh angin sore hari. Terus bergerak tak karuan. Aku melihat bibirnya melentik-lentik tak mau diam. Melihat Gemol yang ketakutan itu, hatiku terpingkal-pingkal, namun tak kulahirkan, karena takut akan amukan Pak Darmo. Sementara Lasmi yang berada di sampingnya diam dengan muka tertunduk. Ia tetap diam, dan mungkin merasa bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan. Mataku langsung kubanting kedepan lagi, takut kalau Pak Darmo mengetahui gerakan kecil ini. Beliau sangat hafal dan awas terhadap tingkah laku kami. Seperti tupai yang mengintai mangsanya atau seperti singa lapar yang ingin menerkam siapa saja yang didekatnya.
“Kalian ini” sembari koran yang dipegangnya diacung-acungkan pada kami semua.
 “Setiap hari telat…mau jadi apa kalian? bagaimana seandanya pendiri bangsa ini seperti Bung Karno, Bung Hatta dan yang lain mengetahui penerusnya seperti kalian ini. Jika tau pasti akan marah. Akan kau bawa kemana nasib bangsa ini?” dengan nada menggebu-gebu
Nasihat dan omelan terus beliau dengungkan di depan kami. Saking seringnya telat, akupun sampai hafal semua kata yang keluar dari mulutnya.  Entah harus berapa kali nasihat ini masuk ke telinga kami. Entah berapa menit beliau selalu berkata hal yang sama pada kami. Setiap hari, ketika ada murid yang telat beliau selalu memperingatkan dan memberi nasihat dengan kata-kata yang sama. Namun semua nasihatnya hanya dianggap angin musiman yang cepat sekali hilang, masuk  telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tak ada satu baitpun dari nasehatnya yangnyantol” di telinga kami.
Selesai mendengarkan nasihat beliau, akhirnya kamipun diberi hukuman untuk memutari lapangan sepak bola disamping sekolah. Lapangan yang dipenuhi debu dan sedikit rumput ini cukup membuatku lelah. Apalagi debu yang berterbangan akibat gerakan kaki kami, semakin menguras tenaga. Yang paling parah adalah Gemol, bukan saja ia telat namun ia tak membawa sepatu. Katanya sepatu yang ia punya satu-satunya kehujanan dan belum kering. Sungguh malang nasibnya. “Sudah jatuh tertimpa tangga” mungkin itu ungkapan yang paling tepat menggambarkan keadaannya saat ini. Gerak lari Gemol membuatku geli, seperti ikan yang diletakkan di palka kapal, lenggak-lenggok tak karuan. Kadang kala kekanan, dan kadang juga kekiri.
“Las, lihat itu temanmu, larinya melenggak-lenggok tak karuan” seruku pada Lasmi yang berlari disampingku
“Ah kau Bay, bisa aja. Jangan mengumpat terus” jawab Lasmi sembari berlari kecil karena rasa capek yang mulai menyeruap
Sementara yang lain terus berlari memutari lapangan yang sedikit oval itu. Hukuman  kami adalah memutari lapangan sebanyak 7 kali. Namun baru 3 kali, nafasku sudah engos-engosan seperti motor yang dicopot filternya. Jantungpun berdetak semakin kencang. Belum lagi tadi belum sempat sarapan karena dikejar sang waktu.
Sementara Pak Darmo masih mengawasi dipinggir lapangan dengan pluit yang menggantung dilehernya. Peluit berwarna merah yang selalu tersampir dileher seperti kalung. Tak jarang Pak Darmo menegur kami yang berlari kecil karena nafas engos-engosan. Jika ada yang tidak tahu pasti mengira bahwa kami sedang pemanasan atau sedang latihan bermain bola.
“Cepat….lari yang benar, mau jadi apa kau…..lari saja nggak becus” seru Pak Darmo dari pinggir lapangan
Suara peluit kadang juga terdengar dari pinggir lapangan sebagai teguran dan peringatan. Ketika suara peluit terdengar secepat kilat kami langsung meningkatkan akselerasi kecepatan lari kami dari pelan, menjadi agak kencang. Sudah 5 putaran  telah kami lakukan, sementara Pak Darmo masih saja berdiri di pinggir lapangan. Pandangannya tak lepas dari kami yang sedang menjalani masa hukaman. Mungkin dalam benak Pak Darmo, “ini adalah pelajaran dan peringatan agar engkau lebih menghargai waktu dan bersikap disiplin”. Tapi selama bertahun-tahun metode yang diterapkan Pak Darmo belum juga membuahkan hasil yang maksimal. Setiap hari, setiap minggu pasti ada yang terlambat dan memutari lapangan. Namun Pak Darmo tak menyerah dan putus arang dalam memperlakukan siswanya agar disiplin.
Putaran terakhir kami lalui dengan nafas yang semakin pendek. Jantung berdetak kencang bagaikan dentang lonceng tadi pagi yang membuat kami harus menjalani hukuman ini. Debu semakin berterbangan seperti kabut dipagi hari yang menghalangi pandangan. Pandangan matapun semakin terbatas, debu yang berterbangan juga terhirup kehidung. Rasa sesak, disertai batuk mulai datang. jika terus-terusan begini bisa-bisa kami kena penyakit paru-paru.
Tujuh putaran lapangan bola sudah kami lewati dengan susah payah. Keringat bercucuran dan menetes melewati sela-sela pipi ini. Seperti aliran sungai Brantas yang bermuara dipantai Selatan. Ditambah lagi nafas kembang-kempis untuk mengambil udara yang seakan melawan kami. Belum sampai disitu saja, kami harus menghadap lagi ke Pak Darmo untuk mendengarkan berbagai nasihatnya lagi.
“Brukkk,…..brukkkk…brukkk”
“Maaf, pak saya telat”
Terlihat wajah lusuh anak satu ini yang menghadap Pak Darmo. Namanya Sadli, tubuhnya kerempeng, dengan raut muka anak nelayan yang kumal. Seperti tak pernah mandi air tawar. Pakainnya lusuh, tak pernah kena strika setelah dibeli. Seorang pesilat yang lincah dan memiliki garis nasab guru silat dikampung kami. Tupai lompat, ia biasa kami juluki. Kelihaan dan kelincahannya menjadikan ia dijuluki tupai lompat. Tak perlu diragukan lagi mengenai fisiknya, ia mampu memutari lapangan bola sekolah kami sepuluh kali dan bahkan lima belas kali. Seakan ia tak punya jantung dan paru-paru. Ia mungkin tidak bernafas dengan paru-paru namun dengan insang. Entah seperti apa jantung dan paru-paru anak itu. Atau mungkin ia mewarisi kekuatan fisik pemain bola dari Brazil. Sang legendaris sepak bola sepanjang masa yaitu Pele.
Wajah pak Darmo semakin geram, melihat siswanya yang sudah jam setengah delapan baru datang kesekolah. Dalam hatinya, “ini anak mau nya dijadikan apa?”.
“He, kau….Sadli, kenapa kau telat?” tanya Pak Darmo dengan penuh kecurigaan
“Aaaannuuu pak” jawab Sadli dengan wajah sedikit pasrah
“Anu apa?, sudah gak usah banyak penjelasan langsung putari lapangan 10 kali.” dengan raup muka yang seram
“Tapi pak, kumohon dengarkan alasan saya?” dengan sedikit mengiba
Halah, alasan apa lagi, paling kau mencari-cari alasan yang nggak masuk akal. Aku tak peduli, sudah muak aku mendengarkan alasan dari kau, dasarrr…!”dengan nada keras ssambil melototkan kedua matanya seakan amu keluar dari kelopak mata.
“Tapi pak?”dengan muka menyerah
“Tak perlu tapi-tapian, kalau tak mau kutambah lagi hukumannya”
“Jangan pak”  sembari berjalan meninggalkan kami dan menuju lapangan bola.
Sadli tak dapat menjelaskan alasan kenapa ia terlambat karena pak Darmo sudah tak memerlukan alasan yang tak masuk akal. Memang Sadli suka ngeles kalau masalah keterlambatan. Namun karena seringnya ia terlambat, sampai hafal Pak Darmo dengannya. Mau tak mau, ia harus menjalani hukuman seperti yang kami telah jalankan barusan. Dengan muka sedikit tertunduk lesu  ia segera berlari menuju lapangan dan mengitari lapangan sepak bola. Tak berapa lama ia pun selesai berlari. Akhirnya kami semua dibolehkan masuk ke kelas masing-masing. Sembari berjalan membelakangi Pak Darmo, Sadli membuka obrolan.
“Bay, lihat itu alis Pak Darmo naik turun seperti harga BBM akhir-akhir ini” tawa kecil langsung pecah ketika Sadli membuka obrolan mengiringi perjalanan kami ke kelas.
“Husf…” seru Lasmi untuk memotong tawa kecil kami semua. Pak Darmo mengetahui umpatan Sadli tadi
“Apa yang kau katakan, Le?”  . Dengan wajah yang geram ia menimpali Sadli dengan kata “Le” yang merupakan kata sakral yang jarang di ucapkan oleh masyarakat di kampung kami. jika kata “Le” diucapkan oleh seseorang seumuran, artinya  ia merendahkan orang lain dan akan menyulutkan emosi yang dipanggilnya.
“Tidak Pak” kami semua langsung berlari kecil meninggalkan Pak Darmo dan segera menuju ruang kelas. Sementara Pak Darmo masih saja berdiri di tempat dan melihat kami berlari memunggunginya
 Sinar mentari pagi mengantarkan kami menjadi atlit lari disekolah. Atlit lari yang tak pernah ikut dalam setiap kejuaraan dan hanya menjadi cadangan sepanjang hayat. Lomba tujuh belas agustus pun tak pernah dipanggil apalagi perlombaan tingkat provinsi dan bahkan nasional tidak pernah tersentuh. Sepanjang sekolah ini masih berdiri tegak. Sepanjang Pak Darmo masih berdiri didepan pitu gerbang menunggui kami yang terlambat. Sepanjang itu pula kedisiplinan diajarkan Pak Darmo dalam mendidik kami. Anak-anak bandel yang setiap hari dikejar oleh sang waktu.
***
BERSAMBUNG.........

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar