WpMag

Minggu, 29 Juli 2012

KEMBALI PADA KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTORO



KEMBALI PADA KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTORO


Sering kali kita dengar anak putus sekolah lantaran biaya mahal. Sudah terlalu sering kita dengar anak tidak mau sekolah lantaran gurunya galak. Kita juga sering kali dengar ada penggusuran dan sengketa lahan-lahan sekolahan. Berita-berita tersebut seakan menyesaki setiap sudut kehidupan kita. Menembus dan memekakkan gendang telinga. Membuat mata kita pedas dihadapan televisi. Seakan pendidikan adalah hak orang-orang kaya. Yang miskin tak kebagian tempat. Hanya disudut-sudut jalan. Dilorong-lorong jembatan. Memadati setiap sudut kota. Mereka mengais-ngais ilmu ditengah belantara melambungnya harga pendidikan. Iya, harga pendidikan melambung. Kenapa aku menyebutnya harga pendidikan?. Karena sekarang pendidikan tak ubahnya lahan bisnis yang menjanjikan. Ilmu dapat berubah menjadi rupiah-rupiah yang mengalir ke kantong-kantong manusia tamak.

Mungkin kita harus menengok kebelakang, berbalik arah mengais-ngais sejarah mengenai pendidikan. Terlalu naïf sistem pendidikan kita saat ini yang hanya mengandalkan materi. Sudah selayaknya kita malu pada Ki Hajar Dewantaro yang memiliki ide brilian berpuluh-puluh tahun lalu. idenya itu menjadi tulang punggung pendidikan kita saat itu. Namun seiring berjalannya waktu, konsep itu mulai terkikis oleh peradaban modern.

Sudah saatnya kita membuka lembaran demi lembaran konsep pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Memahami, menyelami satu persatu. Beliau  menerapkan konsep memanusiakan manusia dengan tiga filosofi yang dikembangkan yakni nasionalistik, naturalistik, dan spiritualistik. Sekarang pendidik kurang memiliki jiwa nasionalisme. Sehingga apa yang diajarkan kepada anak didiknya jauh dari kecintaan terhadap negerinya. Tak hayal jika suatu saat nanti bangsa ini mungkin akan mengalami kemunduran.

Sepertinya anak didik sekarang berbeda dengan zaman dulu. Dikala lampau gaya pengajaran yang kaku, tegas, dan selalu ada hukuman menjadi ciri khasnya. Tak hayal anak didik takut dan apa boleh buat akan selalu patuh dengan apa yang dikatakan oleh gurunya. Kini semua itu telah lenyap ditelan modernisitas. Lenyap hilang tak berbekas. Jika ada seorang guru memarahi muridnya, menjewernya, memukul dengan penggaris. Besok jangan harap guru itu dapat berlengga-lengga di sekolah. Besok, Komnas perlindungan anak akan datang menyambanginya. Kini semua memang berubah, tak hanya cara guru mengajar karakteristik murid juga mengalami perubahan. Murid sekarang kadang tak mau diperintah guru. “ngengkel” orang jawa bilang. Seolah tau dengan caranya sendiri. Seperti yang pernah saya hadapi ketika mengajar dulu. Anak kecil sekarang memang sangat berbeda dengan ketika zamanku. Jika tidak didik keras tidak tau adab, jika didik keras nanti akan berhadapan dengan komnas perlindungan anak. Ini adalah pilihan dilematis. Pilihan penuh risiko. Sudahlah hanya ada satu jalan kembali ke konsep pendidikan ki Hajar Dewantoro yaitu memanusiakan manusia. Konsep ini mungkin menjadi jalan untuk berbagai kendala yang muncul saat ini. dengan pendekatan secara persuasive maka diharapkan akan membawa dampak yang signifikan.

Waktu tak dapat diputar kembali untuk sekedar menyambangi kehidupan lampu. Waktu terus berjalan mengiringi setiap langkah kehidupan. Kini tak ada jalan kecuali untuk melawannya. Pendidikan kita saat ini terlalu beringas dan brutal. Akses untuk mendapatkannya terlalu sulit. Apalagi perguruan tinggi. Hanya seribu satu orang miskin dan benar-banar miskin untuk dapat mencicipi perguruan tinggi. Dana besar yang digelontorkan oleh pemerintah kemana saja. 20% dari APBN katanya digunakan untuk pendidikan, lantas dimana hasilnya. Kenapa masih ada anak yang tak dapat pendidikan. Seperti apa yang dilaporkan UNESCO “Indonesia berada di peringkat 69 dari 127 negara dalam Education Development Index. Bahkan pada tahun 2010 usia sekolah yakni 7-15 tahun yang terancam putus sekolah sebanyak 1,3 juta. Sungguh angka yang fantastis ditengah tingginya subsidi pendidikan yang digelontorkan oleh pemerintah. Tak usah kita terlalu berharap untuk dana yang begitu besar itu. yang kita harapkan adalah kesadaran akan para petinggi negeri untuk semua itu.

Kini yang kita perlukan adalah keberanian dalam setiap tindakan untuk mencapai tujuan. Pendidikan yang kita butuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengangkat harkat martabat bangsa. Kita harus kembali pada konsep pendidikan yang diutarakan oleh Ki Hajar Dewantoro yaitu memanusiakan manusia. Dengan begitu maka keberlangsungan pendidikan akan dapat tercapai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar