WpMag

Senin, 30 Juli 2012

BELAJAR DARI SISTEM PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN


BELAJAR DARI SISTEM PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN

Aku bukan lah anak pesantren, bukan dilahirkan dari keluarga santri juga. Aku hanyalah anak  petani biasa yang terlahir dengan himpitan kehidupan modern yang semakin berangus. Kemajuan teknologi menghiasi perjalanan hidupku. Namun ingin aku tuliskan sebuah cerita mengenai perjalananku ketika menapaki setiap tangga dalam hidup ini.

Pendidikan adalah salah satu cara kita untuk terlepas dari jerat kebodohan. Dengan pendidikan yang tepat dan baik kita dapat berkembang dan lepas dari kehidupan modern yang menyesakan ini. Maka dari itu, disini seorang pendidika sangat penting perananannya guna mensukseskan anak didiknya karena setiap ilmu yang diberikan menjadi bekal kelak anak didik itu dalam masa depannya.

Di pinggiran kota Tulungagung terdapat sebuah pondok pesantren Salafi. Pondok Ma’hadul Ilmi Wal Amal (MIA) yang terletak di desa Moyoketen. Pondok pesantren itu telah mencetak generasi-generasi insani yang brilian. Disitulah aku pernah menimba ilmu agama. Di didik oleh para ustad-ustad yang memiliki kasanah keilmuan yang mumpuni.  Aku tidak mondok disana, hanya saja ikut ngaji dimadrasahnya. Ini adalah catatan para pendidik di pondok MIA yang sangat inspiratif dan patut dijadikan contoh dalam mendidik murid di bangku sekolah formal.

Pertama, sebelum pelajaran dimulai murid-murid diminta untuk belajar membaca berbagai pelajaran yang terdahulu. Istilah pondoknya “Lalaran” berbagai koidah pelajaran yang telah diajarkan oleh sang ustadz. Lalaran pelajaran dilakukan secara bersama-sama. Tujuannya agar ilmu-ilmu yang didapat sebelumnya tidak mudah lupa.

Kedua, ketika guru masuk dan mengucapkan salam selanjutnya sang guru meminta murid-murid membaca berbagai pelajaran yang terdahulu. Tidak hanya itu, sang murid di minta untuk maju kedepan menghafalkan berbagai pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya. Sang guru menguji hafalan murid-muridnya dan untuk mengetahui seberapa jauh murid menyerap ilmu yang disampaikan

Ketiga, setelah sang guru menjelaskan berbagai pelajaran dengan detail maka di buka sesi tanya jawab dimana untuk memberikan kesempatan pada murid-murid menanyakan pelajaran yang tidak di pahaminya. Disinilah aku menemukan betapa tinggi ilmu-ilmu guru-guru  tersebut. Setiap jawaban yang diberikan didasarkan pada Al Qur’an, Hadist, maupun kitab-kitab para ulama. Dan banyak kata-kata mutiara yang aku dapatkan dari para guru-guru tersebut hingga kujadikan prinsip dalam hidupku ini. beberapa kata-kata mutiara yang diambil guru-guru dari perkataan ulama yang kini masih melekat di otakku:

“Istiqomah itu lebih bai dari Seribu Karomah”. Kata-kata mutiara itu telah merasuk dan melekat pada otakku. Hingga aku tuliskan dalam dinding kamarku serta aku tulis di desktop komputerku. Istiqomah atau kontinyu merupakan hal yang harus tetap di tegakkan dalam setiap amal ma’ruf. Karena istiqomah tersebut adalah salah satu bentuk ibadah yang disukai Alloh.

“Syariat tanpa hakikat batal, begitu juga hakikat tanpa syariat batal”. Kata mutiara tersebut sangat menginspirasi ku. Hal ini dikarenakan setiap ibadah kita tidak hanya mementingkan syariat, namun juga harus memperhatikan hakikat. Wudlu, adalah salah satu syarat untuk solat dan itu termasuk dalam syariat, sedangkan kekusu’an ada salah satu hal yang harus diperhatikan karena menyangkut hubungan ibadah kita dengan Alloh. Kekusuk’an adalah salah satu hakikat dalam ibadah.

Begitulah cara mengajar para guru-guru ku yang mungkin sudah selayaknya di contoh oleh para guru sekolah formal. Dan mungkin cara mengajar tersebut tidak ditemui di system pengajaran sekolah konvensional. Hal itu sudah aku buktikan, di SMP dan SMA belum aku temui metode mengajar seperti itu. Sejauh ini yang ada di sekolah formal adalah guru menerangkan, member tugas, dan menjawab pertanyaan. Seandainya system mengajar di pondok-pondok pesantren diadopsi oleh sekolah formal bukan tidak mungkin masa depan bangsa Indonesia akan semakin maju dan gemilang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar