WpMag

Selasa, 17 Juli 2012

REUNI BABAK 2


REUNI BABAK 2


Aku menatap luasnya pesawahan yang terhampar di luar sana. Melambai-lambai hijau padi menghiasi pemandangan. Rimbun, sejuk menyapa ku yang tengah melakukan perjalanan ini. Sungguh begitu indahnya nan jauh disana.
“akua…akua….canggoreng…..mezon…mezon”
Seorang pedagang asongan menyapa penumpang yang tengah terlelap dalam perjalanan. Keringat mengalir deras ditengah panasnya siang. Melewati sela  keriput wajah yang mulai termakan usia. Ubannya memenuhi kepala. Terlihat rambutnya yang terbaur berwarna tak karuan, hitam putih tak begitu jelaas. Semangatnya terlihat menyala-nyala seperti panasnya siang ini. Ku lihat wajahnya yang lusuh. Aku menarawang jauh kebelakang menembus lorong-lorong waktu. Kuingat sahabatku yang hitam, kecil beleh dibilang, hitam legam bagaikan warna kopiah bapakku. Lebih bagus kopiah bapakku yang warnanya mulai menguning “Nyadam” korma. Orang bilang ia memiliki nasab dari orang timur, walaupun sebenarnya aslinya dari jawa. Jawa tulen. Jika gak percaya coba ajak ngobrol dengan bahasa Indonesia kagak ngerti. “dlongap-dlongop” seperti orang kehilangan saudaranya di perantauan. Namanya tak penting disebutkan. Kadang ia bingung apa arti dari nama yang diberikan ibunya. Terlalu padat namanya, hanya 5 huruf. Ia kebingungan ketika membuat account FB ataupun email. Hingga nama kampungnya dipakai. Sungguh sangat tragis mendengarnya.
Kereta berjalan pelan, derit lokomotif menyayat telinga. aku melihat keluar jendela gerbong. Terlihat ramainya stasiun Klaten di luar sana. Seorang pedagang asongan menyapaku dengan ramahnya. Aku tersenyum padanya.
“Mas, mizon …, akua….”
“Akua satu aja pak”
“ini mas”
Aku rogoh saku celanaku. Sebelah kanan, tak ada dompet, sebelah kiri juga tak ada, di belakang juga tak ada. Dimana gerangan dompetku. Untuk masalah ini aku gak ingin seperti sahabatku yang dulu. Ku coba untuk menenangkan pikiranku dulu.
“maaf pak, gak jadi”
“ah, mas kalau gak niat beli jangan beli”
“maaf pak”
Aku masih sibuk dengan pencarian domepetku. Ku buka satu peratu kolong saku di tasku. Reslating terdengar seperti orang teriak….krek…krekkk. masih belum ketemu juga. Aku diam, aku merenung. Aku masih diam dalam pencarian dompet yang belum juga datang jawaban. Aku ingat sosok didepanku yang duduk tadi. Dia sudah gak ada. Apa dia sudah turun disini. Aku lihat diluar sana. Pandangan mata ini beredar disepanjang stasiun yang ramai dipenuhi manusia. Kulihat orang tua tadi, sembari memegang dompet yang dari kejauhan mirip sekali dengan dompet milikku. Aku berlari turun daris stasiun untuk mengejarnya. Berlari terus, hingga terengah-engah.
“mas berhenti” panggilku dari belakang. Ia pun menoleh me
Melihat aku yang menyapanya ia langsung berlari terbirit-birit. Aku coba untuk mengejarnya. Walaupun tubuhnya tua namun ia masih kuat dalam lari. Sementara tubuhku yang semakin subur saja tak kuat untuk mengejarnya. Orang-orang distasiun hanya memandangi kami yang sedang saling kejar-kejaran. Mungkin mereka semua mengira bahwa kami sedang main “kucing-kucingan”.
Sudah hilang sudah semua yang ada didompet. Mulai dari uang, berbagai kartu nama, KTP maupun ATM. Hilang lenyap digondol copet……
(bersambung)
Salam hangat persahabatan kita “Keluarga BDP 09)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar