WpMag

Minggu, 08 Juli 2012

Laporan Marine


















Laporan Marine


I.                    PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Budidaya laut adalah suatu kegiatan membudidayakan atau memproduksi organisme perairan di daerah yang bersalinitas tinggi (30-32ppt). Budidaya laut in cenderung memanfaatkan perairan laut sebagai media utama (FAO, 2003). Maka dari itu setiap kegiatan perikanan yang dilakukan di daerah perairan laut atau yang bersalinitas maka dapat dikatakan bahwa budidaya tersebut adalah budiya laut. Di negara-negara maju budidaya laut sangat berkembang dan menjadi tumpuan utama dalam pembengunan perikanan.
Perairan payau atau brackish water merupakan perairan campuran antara air asin (laut) dan air tawar. Biaasanya perairan payau memiliki kandungan salinitas yang berfluktuatif tergantung dari suplay air asin dari laut. Budidaya payau adalah suatu kegiatan membudidaya organisme diparairan payau sebagai media utamanya. Maka dari itu budidaya dapat digolongkan berdasarkan jenis perairannya. Perairan yang memiliki salinitas tinggi (30-32ppt) dapat digolongkan sebagi perairan laut sedangkan perairan yang salinitas sedang (15-20ppt) dapat digolongkan sebagai perairan payau. Sebenarnya kedua budidaya tersebut tidak memiliki batas yang pasti, namun dengan memberikan parameter salinitas dapat dijadikan rujukan dalam penyebutan budidaya yang dilakukan.
Potensi perikanan laut Indonesia tahun 2009 adalah 12.545.072 Ha. Saat ini pemanfaatan perairan laut baik untuk kegiatan budidaya, mauapun pemanfaatan lain masih kecil yaitu 117.649,30 Ha. Potensi perikanan payau Indonesia tahun 2009 adalah 2.963.717. namun saat pemanfaatannya juga reatif masih minim yaitu 682.857 Ha (Kelauatan dan Perikanan dalam angka, 2011). Melihat potensi yang sangat besar dan pemanfaatannya yang masih minim maka sangat membuka pelung untuk pengembangan kedepan. Pemanfaatan sumberdaya alam yang melimpah ini harus diatur dan regulasi yang tepat dan dikelola secara terintegrasi oleh pemerintah dan masyarakat. Harapannya dapat memberikan lapangan pekerjaan yang nyata untuk masyarakat.
Saat ini komuditas yang dikembangkan dalam budidaya laut masih minim. Di Indonesia beberapa komuditas perairan terus dikembangkan seperti Kerapa, Tuna, Abalone, Napoleon, Bawal laut, Kakap, dan rumput laut. Sebenarnya masih banyak komuditas yang dapat dikembangkan. Namun saat ini yang memberikan kontribusi cukup besar untuk kegiatan ekspor adalah Kerapu, Tuna, dan Rumput laut. Berbagai komuditas tersebut saat ini diekspor ke berbagai negara dunia. Salah satunya adalah kerapu yang merupakan komuditas ekspor yang ditujukan ke negara-negara Asia seperti Cina, Taiwan, dan Hongkong. Sedangkan komuditas perairan payau yang memberikan kontribusi besar dalam kegiatan perikanan di Indonesia adalah komuditas udang. Hal terlihat dari nilai ekspor yang cukup tinggi. Nilai ekspor udang Indonesia di tahun 2010 mencapai 1.056.399 juta USD(Sidatik, 2011). Komuditas udang memiliki kontribusi ekspor terbesar Indonesia daripada komuditas lainnya seperti Tuna, Cakalang, Kerapu, dll.
Lokasi merupakan salah satu tempat yang harus dipenuhi dalam kegiatan budiya laut maupun payau. Pemilihan lokasi sangat penting guna kelangsungan kegiatan budidaya. Budidaya laut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan perairan laut. Biasanya perairan laut yang dapat digunakan untuk budidaya adalah yang memiliki arus tenang, gelombang kecil, bebas dari limbah industry, dan aksesibilitas. Sedangkan budidaya payau sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Maka dari itu budidaya payau yang dilakukan di daerah pesisir sangat diperlukan kajian mengenai kondisi lingkungan. Pada umumnya syarat lokasi untuk budidaya payau adalah dekat dengan sumber air laut, sarana dan prasarana, aksesibilitas, dan keamanan.
A.      TUJUAN
1.    Melakukan studi banding ke Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo,
2.    Mengetahui teknik budidaya komoditas perairan payau dan  laut sebagai bahan pembanding materi perkuliahan,
3.    Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa terutama mengenai hal-hal praktis di lapangan.

B.       MANFAAT
Mahasiswa dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan praktikum ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat serta mampu untuk mengatasi setiap permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan kegiatan budidaya air payau dan budidaya air laut khususnya dalam pembenihan dan pembesaran budidaya kerapu, pembenihan dan pembesaran udang vaname serta budidaya rumput laut sehingga hasil produksi perikanan semakin optimum.

C.       WAKTU DAN TEMPAT
1.    Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Pecaron Situbondo
  Hari       : Senin
Tanggal  : 18 Juni 2012
2.    Instalasi Pembenihan Udang Gelung
  Hari       : Senin
Tanggal  : 18 Juni 2012
3.    Divisi KJA
Hari       : Selasa
Tanggal  : 19 Juni 2012
4.    Backyard hatchery Pak Abdurrahman
Hari       : Selasa
Tanggal  : 19 Juni 2012
5.    Kelompok pembudidaya rumput laut
Hari       : Selasa
Tanggal  : 19 Juni 2012





















II.                  PEMBAHASAN

A.      Balai Budidaya Air Payau Pecaron Situbondo
              Balai Budidaya Air Payau Pecaron Situbondo sebelumnya merupakan proyek dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara. Proyek tersebtu dimulai pada tahun 1988. Pada tahun 1990 proyek tersebut menjadi sub senter . pada tahun 1995 Sub senter Situbondo berubah menjadi Lokariset. Ditahun 2001 berubah menjadi Balai sampai sekarang. Tidak hanya itu, Balai Budidaya Air Pyau (BBAP) Situbondo bahkan telah melahirkan Balai Karang Asem yang ada di Bali. Awal berdiri Subsenter Situbondo hanya memiliki 6 bak budidaya dan 4 bak plankton. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya SubSenter menjadi lokariset dan kemudian menjadi balai maka sarana dan prasarana yang ada mulai berkembang. Berbagai komuditas telah di kembangkan di BBAP Situbondo dan merupakan komuditas unggulan untuk pasar ekspor. Salah satunya adalah komuditas kerapu. Kerapu yang dikembangkan di BBAP Situbondo merupakan kerapu yang berkualitas baik dan bahkan merupakan komuditas unggulan Indonesia untuk kegiatan ekspor ke Hongkong, Taiwan, dan Cina.
   Balai budidaya Air Payau (BBAP) Pecaron Situbondo terletak di pantai utara tepatnya masuk dalam kabupaten Situbondo provinsi Jawa Timur. Balai Budidaya Air Payau Situbondo mempunyai tiga devisi yaitu divisi udang yang menempati area 0,98 ha terletak di desa Blitok, Kecamatan Bungatan , divisi budidaya yang menempati area 52 ha terletak di desa Pulokerto, Kecamatan Kereaton, Kabupaten Pasuruan dan devisi ikan merangkap kantor pusat yang menempati area 3,2 ha didusun Pecoran, desa Klatakan, Kecamatan Kendit yang berada sekitar 15 km dari ibukota ke arah barat. Secara geografis, BBAP Situbondo terletak pada 113 derajat 55’ 56” BT-114 derajat 00’ BT dan 07 derajat 41’ 32” LS-07 derajat 42’ 35” LS yang dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim penghujan (November- Maret) dan musim kemarau (April-Oktober).
Sumber air yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo berasal dari pantai Utara. Hal ini dikarenakan letak balai yang berdampingan langsung dengan Laut Utara jawa. Maka dalam suplai air laut menggunakan air dip antai utara. Dalam pengambilan air laut untuk mengisi ke bak-bak tendon ataupun budidaya dengan menggunakan pompa. Dengan begitu maka akan sangat memudahkan dalam suplai air dan biaya operasional.
B.       Teknik dan Manajemen Komoditas Budidaya
1 . Kerapu macan (Epinepheus fuscoguttatus)
         Kerapu macan merupakan jenis ikan karnivora yang bersifat kurang aktif namun sangat mudah dibudidayakan karena memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. Hingga saat ini untuk memenuhi kebutuhan pasar di dalam dan luar negeri, keberadaan kerapu macan masih didominasi hasil tangkapan yang sangat tergantung dengan musim. Selain itu kesinambungan produksi tangkapan tidak dapat dijamin karena daya dukung populasi di alam akan menurun bila terjadi overfishing. Akibat dari penurunan jumlah produksi penangkapan kerapu macan khususnya untuk ukuran konsumsi membuat usaha budidaya menjadi salah satu alternatif terbaik serta mampu memberikan harapan baru. (Anonim, 2011).
Klasifikasi
Ikan kerapu macan (Epinehelus fuscoguttatus) digolongkan pada :
Class : Chondrichthyes
Sub class  : Ellasmobranchii
Ordo        : Percomorphi
Divisi       : Perciformes
Famili      : Serranidae
Genus      : Epinephelus
Species    : Epinepheus
fuscoguttatus (Randall, 1987)
Ikan kerapu bentuk tubuhnya agak rendah, moncong panjang memipih dan menajam, maxillarry lebar diluar mata, gigi pada bagian sisi dentary 3 atau 4 baris, terdapat bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, bintik hitam pada bagian dorsal dan poterior. Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp, setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya "mencaplok" satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai kenis krustaceae (rebon, dogol dan krosok), selain itu jenis ikan-ikan (tembang, teri dan belanak). 
Di dalam tangki percobaan ikan betina yang telah dewasa bila akan memijah mendekati jantan. Bila waktu memijah tiba, ikan jantan dan betina akan berenang bersama-sama dipermukaan air. Pemijahan terjadi pada malam hari, antara pukul 18.00 sampai pukul 22.00. jumlah telur yang dihasilkan tergantung dari berat tubuh betina, contoh betina berat 8 kg dapat menghasilkan telur 1.500.000 butir. Telur yang telah dibuahi bersifat "non adhesive" yaitu telur yang satu tidak melekat pada telur yang lainnya. Bentuk telur adalah bulat dan transparan dengan garis tengah sekitar 0,80 -0,85 mm. Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi benih yang aktif berenang. Benih inilah yang umum tertangkap oleh nelayan. Kelimpahan benih ikan kerapu ini sepanjang tahun tidak sama. Kelimpahan yang paling tinggi disekitar Teluk Banten terjadi pada bulan Februari sampai April.
Sarana dan prasarana yang diperlukan dalam budidaya kerapu macan pada dasarnya sama dengan budidaya kerap pada umumnya. Di BBAP Situbondo sarana yang diperlukan dalam budidaya meliputi pompa air, listrik dan tak lupa genset dengan kekuatan 17 PK sebagai pengganti listrik PLN jika padam.
Sebagai langkah awal budidaya kerapu macan yang terpenting adalah ketersediaan benih dengan jumlah dan kualitas yang baik yang dapat diperoleh dari hatchery, karena akan mampu memenuhi kriteria jumlah, kualitas, ukuran dan waktu sesuai yang diinginkan. Pada umumnya pembuatan hatchery kerapu bagian dasar kolam adalah pasir atau karang. Pakan alami yang digunakan dalam pembenihan kerapu macan berbeda-beda tergantung fase dan umur larva. Larva yang baru menetas biasanya diberi makan Clorela dan rotifera. Selanjutnya menginjak umur 10 hari pakan diganti menjadi artemia. Ketika larva berumur 25 hari pakan diganti menjadi Mysiodopsis/ rebon. Pengelolaan air harus dikontrol guna meminimalisir perubahan lingkungan yang drastis. Harapannnya akan meningkatkan survival rate (SR) kerapu macan. Penyakit yang sering muncul dan menyerang kerapu macan adalah jenis bakteri Vibriosis. Untuk mencapai ukuran sekitar 21 gram maka diperlukan waktu pemeliharaan 1 bulan.  Kendala yang dihadapi dalam budidaya kerapu macan adalah waktu yang cukup lama.
Kerapu macan dapat dibesarkan di bak/ kolam maupun di keramba jaring apung. Syarat yang terpenting adalah lingkungan yang mendukung dan suplay pakan. Lingkungan yang baik dan suplai pakan yang mencukupi akan meningkatkan SR dan mempercepat pertumbuhan.
Tabel 1. Standar wadah pemeliharaan, padat tebar, ukuran teba- lama pemeliharaan pada setiap tingkatan pembesaran ikan kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus)
No.
Kegiatan
Ukuran ikan (gram)
15 – 25
50 – 75
400 - 500
1.
Wadah pemeliharaan
Jaring
Jaring
jaring
2.
Penebaran :
- Padat tebar (ekor/m3)
150 – 200
75 - 100
20 - 25
3.
Lama pemeliharaan (bln)
1
2
4
4.
Sintasan produksi (%)
> 80
> 85
> 95
Sumber: Kumpulan SNI Bidang Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya, 2002
Kepadatan optimum untuk fase pendederan adalah 150-200 ekor/m3 dengan rata-rata panjang ikan 9-12 cm dan berat 15-25 g. Setelah dibesarkan selama 1-1,5 bulan, kepadatannya dikurangi menjadi 100 ekor/m3. Kepadatan ini harus dipertahankan hingga masa pembesaran 2 bulan, selanjutnya kepadatan menjadi 20-25 ekor/m3 dipertahankan selama 4 bulan hingga ikan mencapai ukuran konsumsi (400-500 g).Induk betina yang siap memijah memiliki berat 1, 5 kg sedangkan induk jantan 3 kg.
Table diatas merupakan hasil dari penelitian mengenai produksi kerapu macan pada tingkat budidaya yang berbeda.
2. Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis)
Kerapu bebek mempunyai siri dorsal (punggung), sirip anal (perut), sirip petoral (dada), sirip garis lateral (gurat sisi), dan sirip caudal (ekor). Selain sirip, dibagian tubuhnya terdapat sisik yang berbantuk sikloid. Bentuk tubuh bagian punggung meninggi dengan bentuk cembung (concave). Ketebala tubuh sekitar 6,6-7,6 cm dari panjang spesifik. Sementara panjang tubuh maksimalnya mencapai 70 cm. Ikan ini tidak memiliki canine (gigi yang terdapat pada geaham ikan). Lobang hidungnya besar berbentuk bulan sabit vertical. Kulitnya berwarna terang abu-abu kehijauan dengan bintik-bintik hitam diseluruh kepala, badan, dan sirip. Pada kerapu bebek muda, bintik hitamnya lebih besar dan sedikit. Perbedaan antara ikan kerapu jenis lain tidak terlalu berbeda hanya perbedaan warna dan ukuran tubuhnya (Anonim, 2010).
Tabel 2. Standar wadah pemeliharaan, padat tebar, ukuran tebar, lama pemeliharaan pada setiap tingkatan pembesaran ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis).
No.
Kegiatan
Ukuran ikan (gram)
15-25
50-75
400 - 500
1.
Wadah pemeliharaan
Jaring
Jaring
jaring
2.
Penebaran :
- Padat tebar (ekor/m3)
150-200
75-100
20-25
3.
Lama pemeliharaan (bulan)
3
3
9
4.
Sintasan produksi (%)
90
95
95
Sumber: Kumpulan SNI Bidang Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya, 2002
Perbandingan jantan betina kerapu tikus adalah 1:2. Biasanya induk diberi pakan ikan rucah (lemuru, cumi-cumi). Ikan kerapu merupakan ikan hemeafrodit sehingga dalam budidayanya cukup sulit. Untuk kolam induk yang digunakan di BBAP Situbondo ber diameter 10 m. pemijahan kerapu tikus biasanya terjadi pada malam hari yaitu mulai pukul 10 sampai dini hari. Ikan kerapu memijah secara alami pada bulan-bulan gelap.
Tabel Padat Penebaran, Lama Pemeliharaan dan Sintasan Produksi dalam Pembesaran Ikan Kerapu Macan dan Kerapu Bebek.
No.
Kegiatan
Jenis Ikan
Kerapu Bebek
Kerapu Macan
1
Padat penebaran ekor/m3
20-25
20-25
2
Lama pemeliharaan (bulan)
12
7
3
Sintasan produksi (%)
95
95
Sumber: Kumpulan SNI Bidang Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya, 2002
4.    Kerapu kertang
Kerapu kertang termasuk genus Epinephelus yang mempunyai pertumbuhan sangat tinggi karena dapat mencapai 2 kg dalam waktu satu tahun. Puja dkk, (2006) melaporkan bahwa kerapu Kertang ukuran pendederan dan penggelondongan mempunyai laju pertumbuhan harian sebesar 3,09-3,11%. Disamping pertumbuhan yang cepat kerapu jenis ini membuatnya harga lebih tinggi dari pada kerapu macan (Epinephelus fuscogulattus). Berdasarkan data tersebut diatas kerapu kertang merupakan spesies yang potensial untuk dikembangkan sekaligus mengurangi tekanan terhadap perusakan populasi sumberdaya perikanan (Minjoyo dkk, 2007). System budidaya dan manajemen budidaya kerapu kertang pada dasarnya sama dengan budidaya kerapu secara umum.
5.        Kerapu Hybrid
Pada ikan air tawar, persilangan antar spesies untuk mendapatkan strain baru serta morfologi yang disukai konsumen telah dilakukan sejak tahun 70-an. Namun pada ikan-ikan laut terutama kerapu, upaya seperti ini belum banyak dilakukan, hanya sebatas penelusuran genetic melalui analisa enzim dan protein yang menggambarkan profil beberapa jenis ikan dengan parameter nilai heterozigositas, jumlah alel per lokus dan presentase loki polimorfik (Muslim, 1999).
Hibridisasi adalah salah satu metode pemuliaan dalam upaya mendapatkan strain baru yang mewarisi sifat-sifat genetic dan morfologis dari kedua tetuanya dan untuk meningkatkan heterozigositas. Semakin tinggi heterozigositas populasi semakin baik sifat-sifat yang dimilikinya. Hibridisasi pada ikan cukup mudah dan dapat menghasilkan kombinasi taksonomi yang bermacam-macanm dan luas (Tave, 1988).
Dewasa ini telah ditemukan beberapa kerapu Hibrid sperti kerapu Hybrid Cantang yaitu hasil persilangan anatara kerapu macanbetina dengan kerapu kertang jantan. Hasul hibridisasi telah menghasilkan satu varietas baru yang secara morfologis mirip dengan kedua spesies induknya, sedangkan pertumbuhannya lebih baik daripada ikan ekrapu macan dan kerapu kertang itu sendiri.
6.        Bawal Bintang
Filum    : Chordata
Kelas     : Actinopterygii
Ordo     : Perciformes
Famili    : Carangidae
Genus   : Trachinotus
Spesies : Trachinotus blochii (Lacepede, 1801)
Bawal Bintang tergolong ikan perenang aktif dan mampu hidup dengan tingkat kepadatan cukup tinggi (Kadari, et.al., 2008). Ikan Bawal Bintang mempunyai ciri-ciri badan berbentuk pipih melebar dengan sirip ekor bercabang sebagai tanda bahwa ikan bawal bintang merupakan jenis ikan perenang cepat, mulut kecil terletak di ujung kepala dengan rahang bergigi, lubang hidung terletak di depan mata, badan tanpa sisik dengan warna kulit keperak-perakan dengan punggung berwarna hitam (Tim Balai BudidayaLautBatam,1999).
Budidaya bawal dimulai denganpemeliharaan didalam bak betonberbentuk bulat dengan volume 50 m3 , bak induk dilengkapi dengan sumber oksigen (aerasi) dengan 10 titik dilengkapi dengan pompa 2 inchi yang dibiarkan mengalir terus menerus untuk mencapai target pergantian air 300%. Pemtangan gonad dilakukan dengan cara pemberian pakan induk da manipulasi lingkungan. Pakan induk yang diberikan selama pemeliharaan berupa ikan rucah sewperti ikan selar, ekor kuning, belanak, dll. Pemberian ikan rucah sebanyak 3-5% dari total berat induk.  Pakan diberikan pada pukul 7 -8 pagi. Selain itu diberikan multivitamin untuk menjaga kesehatan dan stamina induk.
Manipulasi lingkungan dilakukan untuk memacu pematangan gonad melalui pengaturan ketinggian air pada bak induk, yaitu setiap hari setlah pemberian pakan, ketinggian air diturunkan sekitar 1/3 dari total tinggi bak induk. Perlakuan ini dilakukan setiap hari selama 8 jam. Proses pemijahan induk dilakukan dengan cara melakukan implantasi hormone LHRHa untuk memacu pematangan gonade. Implamantasi hormone dilakukan sebanyak 4 kali berturut-turut setiap bulan pada bulan gelap. Dosis hormone yang diimplamantasikan sebanyak 50 mikro gram/kg berat ikan.
Setelah induk matang gonad dilakukan induce spawning (pijah rangsang) dengan menyuntikkan hormone HCG dan puberogen dengan masing-masing dosis 200 IU dan 150 IU. Telur yang dipijahkan pada malam hari selanjutnya dipanen dan diseleksi pada pagi hari.







7.        Udang vanamei (L.vannamei)

         
Gambar : sebelah kiri ( tambak udang beserta kincirnya) sebelah kanan ( tambak udang beserta anco
Usaha pembenihan udang di dunia, dewasa ini semakin marak selain budidaya udang vannamei yang sudah menjamur di kalangan para teknis budidaya perikanan, ada jenis udang spesies lain yang sudah dikembangkan yaitu Litopenaeus vannamei. Pengenalan udang oleh beberapa negara Asia, yang berasal dari kawasan sub tropis sekitar perairan negara dikawasan Amerika Latin (Meksiko, Equador dan Peru) seperti udang Vannamei, potensi dan prospek  bagi dunia usaha perikanan sangat besar sehingga dapat memberikan akses komoditas udang terhadap pasar internasional.
Klasifikasi udang vannamei adalah:
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Crustacea
Subkelas          : Malacostraca
Seri                  : Eumalacostraca
Superordo       : Eucarida
Ordo                : Decapoda
Subordo          : Dendrobranchiata
Infraordo         : Penaidea
Superfamili      : Penaeoidea
Famili              : Penaidae
Genus              : Penaeus
Subgenus         : Litopenaeus
Spesies            : L.vannamei (Wybandan Sweeney, 1991)

Morfologi
            Secara umum tubuh udang penaeid dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala yang menyatu dengan bagian dada (Cephalothorax) dan bagian tubuh sampai ekor (Abdomen). Bagian cephalothorax terlindung oleh kulit chitin yang disebut carapace. Bagian ujung cephalotorax meruncing dan bergerigi yang disebut rostrume. Udang putih (Litopenaeus vannamei) memiliki 2 gigi di bagian ventral rostrum sedangkan di bagian dorsalnya memiliki 8 sampai 9 gigi (Wyban dan Sweene, 1991).
            Udang Vanamei memiliki tubuh yang beruas-ruas dan tiap ruasnya terdapat sepasang anggota badan yang umumnya bercabang dua atau biramus. L. vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. Berat udang ini dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2). Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut, Penaeus vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan. L. vannamei memiliki toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2 – 40 ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban dan Sweene, 1991).
Siklus Hidup
Seperti kelompok crustacea lainnya udang Vanamei memiliki siklus hidup yang sama yaitu :
1.      Nauplius
Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus vannamei, belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan kuning telur.
2. Zoea
Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari. Stadia zoea sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai membutuhkan pakan berupa fitoplankton (Skeletonema sp.).
3. Mysis
Stadia mysis terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
4. Post Larva
Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larv bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.

Gambar Siklus hidup udang Penaeid (Stewart, 2005)
Sistem budidaya udang Vanamei di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah dengan menggunakan system Intensif semi close . sumber air asin didapat dari laut utara dengan cara dipompa. Air yang telah masuk di lakukan treatment di bak treatmen. Setelah itu air yag telah di treatment dapat digunakan untuk mengisi bak budidaya. Suplai air tawar didapat dari pengeboran. Basanya salinitas dari pengeboran ini adalah 5-15 ppt. Terdapat 2 kincir air yang digunakan dalam satu petak tambak. Dalam setipa bak budidaya memiliki luas 1000m2. Sehingga rata-rata tebar dalam setiap meternya adalah 100ekor. Kapasitas produksi adalah 5ribu kg.
Budidaya udang vanamei khususnya di untu induk mortalitas paling besar adalah 1%. FCR paling tinggi konsumsi adalah 1:1,5. Pemberian pakan pada prinsipnya sama dengan pemberian pakan di budidaya udang secara konvensional. Untuk mendapatkan biomassa sehingga dapat meng estimasi jumlah pakan yang diperlukan adalah dengan cara anco. Jika udang tidak mau makan dalam satu hari berarti pakan harus dikurangi 50%. Selama 3 bulan pemeliharaan minimal SR dalam pembesaran adalah 85%. Jika terlalu banyak mortalitas maka akan dilakukan penebaran ulang.
Budidaya udang Vanamei tidak terlepas dari berbagai kendala salah satunya dalah serangan penyakit. Di Balai Situbondo jarang terjadi serangan penyakit. Biasanya penyakit yang dapat menyerang adalah Taura Sindrom Virus, WSSV, dan WHN. Di Balai Situbondo biasanya hanya terjadi perubahan kondisi lingkungan khususnya suhu. Jika perubahan kondisi lingkungan ini tidak cepat ditangani maka akan berakibat pada serangan penyakit. Pencegahan dari serangan virus dan penyakit adalah dengan penerapan pola makan yang tepat dan pemberian probiotik. Jika terjadi perubahan suhu yang mendadak sepertik suhu yang rendah maka dilakukan pembuangan air kolam, jika suhu naik maka dilakukan penambahan air pada kolam. Probiotik yang digunakan adalah seliformis 2x 10 4 .
Pemanenan dilakukan dengan membuka utlet kolam yang berada di tengah. Setelah dilakukan pembukaan maka debit air di kolam akan menurun sesuai yang diinginkan. Biasanya debit air dipertahankan sekitar ¼ bagian. Setelah itu udang digiring ke pojok kolam dan kemudian dinaikkan untuk dimasukkan kedalam keranjang. Udang yang telah berada dikeranjang selanjutnya akan disortir sesuai ukurang pasar. Udang di cuci dan ditiriskan setelah itu baru ditimbang. Maka pada tahap akhir udang siap untuk di distribusikan.
C.      Rumput Laut (Eucheuma cottonii)
                 
Gambar : sebelah kiri ( rumput laut yang sedang dijemur) sebelah kanan (hasil olahan rumput laut)
Rumput laut merupakan salah satu komuditas budidaya laut yang dapat diandalkan, mudah dibudidayakan dan mempunyai prospek pasar yang baik serta dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat petani.  Saat ini potensi lahan untuk budidaya rumput laut di Indonesia sekitar 1,2 juta ha, namun baru termanfaatkan sebanyak 26.700 ha (2,2%) dengan total produksi sebesar 410.570 ton basah. Budidaya rumput laut tidak memerlukan teknologi yang tinggi, investasi cenderung rendah, menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dan menghasilkan keuntungan yang relatif besar (Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sulawesi Tengah, 2007).
Menurut Doty (1985), Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae) dan berubah nama menjadi Kapphycus alvarezii karena karaginan yang dihasilkan termasuk fraksi kappa-karaginan. Maka jenis ini secara taksonomi disebut Kappaphycus alverezii (Doty, 1986). Nama daerah “cottonii” umunya lebih dikenal dan bisa dipakai dalam dunia perdagangan nasional maupun internasional. Kalsifikasi Eucheuma cottonii menurut Doty (1985) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi       : Rhodophyta
Kelas       : Rhodophyceae
Ordo        : Gigartinales
Famili       : Solieracea
Genus      : Eucheuma
Spesies     : Eucheuma alvarezii
Ciri fisik Eucheuma cottonii adalah mempunya thallus silindris, permukaan licin, cartilogeneus. Keadaan warna tidak selalu tetap, kadang-kadang berwarna hijau, hijau kuning, abu-abu atau merah. perubahan warna sering terjadi hanya karena faktor lingkungan. Kejadian ini merupakan suatu proses adaptasi kromatik yaitu penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan (Aslan, 1998). Penampilan thalli bercariasi mulai dari bentuk sederhana sampai kompleks. Duri-duri pada thallus runcing memanjang, agak jarang-jarang dan tidak bersusun melingkari thallus. Percabangan ke berbagai arah dengan batang-batang utama keluar saling berdekatan ke daerah basal (pangkal). Tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh dengan membentuk rumpun yang rimbun dengan cirri-ciri khusus mengarah kea rah daangnya sinar matahari (Atmadjaya, 1996).
Runput laut yang dibudidayakan di daerah tersebut adalah dari jenis Eucheuma cottoni. Metode budidaya rumput laut yang digunakan adalah dengan metode rakit apung. Rakit apung yang dibuat berasal dari bamboo yang dirangkai dengan rapi. Sebenarnya dalam budidaya rumput laut dapat menggunakan berbagai metode seperti long line jika lokasi perairan berkarang dan rakit apung jika perairan tersebut berpasir.  Panjang standar rakit adalah 8 x 10 meter. Jarak ikat masing-masing tali adalah 20 cm dan 15 cm. dalam satu tali rase berukuran 50 m. di daerah tersebut biasanya satu keluarga memiliki 5 ancak rakit apung untuk budidaya.
Pembibitan rumput laut cukup mudah dengan menggunakan bagian ujung rumput laut untuk dipetik. Bagian ujung tersebut bisa digunakan untuk bibit baru sehingga biaya dalam pembibitan cukup murah. Pada awal pembibitan, biasanya bibit didapat dengan cara membeli dengan harga 1 kg/3ribu. Bibit ini basanya berasal dari luar Situbondo karena kualitasnya yang masih cukup baik. Penanaman rumput laut dilakukan dengan cara mengikat bibit-bibit tersebut pada tali yang telah disiapkan. Setelah diikat dan dipasang maka tinggal dibiarkan diperairan laut. Biasanya kedalaman laut yang dapat digunakan untuk budidaya adalah 1,5 dari surut terendah.
Pemeliharaan rumput laut sampai panen membutuhkan waktu tidak begitu lama yaitu 35-40 hari. Waktu yang singkat inilah yang mengakibatkan rumput laut sering dbudidayakan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir. Terdapat beberapa kendala yang sering muncul dalam budidaya rumput laut. Pertama, perubahan iklim yang sangat drastic mengakibatkan kondisi perairan terganggu dan mengakibatkan kondisi rumput laut menurun dan bahkan mengurangi produktifitasnya. Kedua, adanya serangan penyakit ice-ice menjadi kendala tersendiri bagi petani. Biasanya serangan penyakit ice-ice terjadi ketika kondisi perairan menurun dan banyaknya lumpur yang mengotori thallus. Akibat serangan ice-ice ini bisasanya ketika rumput laut tersebut dikeringkan hasilnya kurang bagus dan terlihat bintik-bintik. Jika rumput laut yang berumur lebih dari 40 hari tidak dipanen maka akan mengalami peremajaan sehingga tidak dapat dipanen. Dalam satu tahun biasanya dapat dilakukan 8 kali panen dan dilakukan perubahan bibit baru. Harapannya dari perubahan bibit baru adalah dapat meningkatkan produktifitas. Pembersihan rumput laut dilakukan terganting situasi dan kondisi. Ketika perairan banyak terjadi ombak sehingga mengakibatkan material dasar menempel di thallaus maka tindakan yang dapat dilakukan adalah membersihkannya.
Pemanenan dilakukan ketika rumput laut berumur 35-40 hari. Pemanenan rumput laut didaerah tersebut dilakukan dengan system borongna ataupun dengan pribadi. Biaya tarik rakit dari tengah ke darat adalah sebesar Rp 75.000, sedangkan biaya untuk panen 25 ribu dan biaya untuk tanam lagi 56 ribu, serta biaya untuk pasang ketengah laut adalah 75 ribu. Rumput laut yang telah siap untuk dipanen ditark ke darat dengan menggunakan perahu motor. Setelah sampai darat maka tali-tali yang melekat pada rakit apung dilepas dan rumput laut dapat dipanen. Harga jual rumput laut yang telah dipanen adalah 1,5-2 ribu/kg untuk rumput laut basah dan 13 ribu untuk rumput laut kering. Biasanya rumput laut yang dikeringkan kadar airnya dapat mencapai 30%. Semakin lama penyimpanan rumput laut semakin baik.
Berbagai produk olahan berbahan rumput laut yang dilakukan didaerah tersebut meliputi dodol rumput laut, kerupuk, permen, dan stik rumput laut. Saat ini pemasaran rumput laut didaerah Situbondo masih untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Distribusi hasil panen rumput laut samapi Malang, Sidoarjo, Gresik, Tangerang, dan Surabaya. Beberapa perusahaan yang telah manampung produksi rumput laut di daerah tersebut adalah PT Indonesia Togamas Prima, dan PT Sentrum.

D.           Keramba Jaring Apung
                    
Gambar Konstruksi Keramba Jaring Apung (KJA)
            Unit budidaya Balai Situbondo tidak hanya terfokos pada land base aquaculture namun juga water base aquaculture. Salah satu water base aquaculture adalah keramba jarring apung yang terletak diarea balai Pecaron Sitobondo. Keramba Jaring Apung (KJA) tersebut dibangun dari pendanaan pemerintah untuk digunakan dalam pembesaran kerapu, kakap, dan bawal bintang. Awal berdirinya keramba jarring apung tersebut pada tahun2012 dan baru beroperasi pada bulan februari. Komuditas yang dibudidayakan adalh Kerapu macan, kerapu tikus, bawal bintang da kakap putih. Keramba tersebut memiliki 58 lubang yang kesemuanya dirangkai dengan system yang modern. Bahan-bahan dalam pembuatan kerangka KJA sudah modern yang terbuat dari plastis dengan daya tahan 20 tahun. Rangka-rangka tersebut hasil produksi PT Aquatec Bandung. Untuk menjaga kualitas, maka setiap beberapa bulan dilakukan pengecekan oleh perusahaan. Harga 1 set rangka dengan terdiri dari 8 lubang keramba adalah 400juta. Berbeda halnya dengan jika bahan rangka KJA hanya terbuat dari sterofom ataupun bambu. Dalam satu unit rangkai KJA terdiri dari berbagai keramba, rumah jaga, tempat penyimpanan pakan, dan perahu untuk transportasi. Di bagian atas keramba diberi paranet yang berfungsi untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk kedalam keramba.
            Setiap jarring biasanya memiliki ukuran 3 x 3 meter dan 4 x 4 meter. Biasnaya padat tebar neih kerapu adalah 300 ekor/ petak. Berat jangkar adalah 60 kg dan dengan benatangn tali 100 meter. Biasnaya dasar perairan berlumpur. Ukuran jarring yang digunakan adalah 1 inch. Pemberian pakan disesuaikan dengan besaran ikan. Ikan yang berukuran 10 cm biasanya membutuhkan pakan pellet 50 ons. Pakan diberikan 2 kali sehari pada pukul 8 dan 4 sore. Tidak hanya pakan pellet, juga dilakukan pemberian pakan ikan rucah selam 1 bulan sebelum dilakukan pemanenan. Ikan ruch ini memiliki kelebihan yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan. Namun pakan ikan rucah juga memiliki kerugian yaitu  lemak yang tinggi serta memicu argulus.  Maka untuk menanganinya cukup mudah yaitu dengan melakukan perendaman dengan iar tawar untuk menetralisirnya. Pengelolaan kualitas air dilakukan satu minggu sekali . Selama ini belum ditemui kualitas air yang jelek. Dalam pengelolaan adanya biofauling yang menempel maka pada tiap 2 minggu sekali dilakukan ganti jaring.
Kendala yang dihadapi adalah ketika terjadi surut biasanya akan berimbas pada bau amis yang disebabkan oleh ubur-ubur. Jika terjadi serangan wabah penyakit maka akan segara dilakukan uji lab untuk mengetahui pathogen yang menyerang ikan. Sedangkan untuk menghindari adanya kerugian dari pencurian adalah dengan menempatkan hewan jaga berupa anjing dan tidak lupa seorang penjaga tiap harinya.
Panen dilakukan dengan cara pengangkatan jaring kemudian menagkap ikan yang berada di jaring. Biasanya ikan yang telah dipanen dipasarkan didaerah SItubondo ataupun diluar kota. Ikan-ikan tersebut dipasarkan untuk kebutuhan konsumsi rumah makan untuk daerah Situbondo. Tidak hanya itu, biasanya panen juga langsung diambil oleh pembeli yang datang langsung dilokasi.


E.       Hatchery Pak Abdul Rahman
           
          
Gambar : sebelah kiri (konstruksi bak treatment) sebelah kanan ( bak kultur clorella)
Hatchery Pak Abdul Rahman pada dasarnya merupakan suatu unit usaha bersama yang berbasis budidaya ikan khususnya kerapu. Hatchery tersebut didanai oleh beberapa orang sahabatnya dan juga dari pihak bank. Dengan pengajuan proposal yang tersusum rapai maka, dana dari bank akan dengan mudah turun untuk kegiatan perikanan. Hatchery ini terletak tidak jauh dari Balai Pecaron Situbondo.
Konstruksi kolam tidak kotak namun sedikit melengkung pada bagian ujung-ujungnya. Tujuannya agar pada bagian suduk kolam tidak mengalami titik mati sehingga kadar DO perairan meningkat. Bak-bak kolam yang dibangun menggunakan bata merah. Pembuatan kolam di cor dulu kemudian dibuat dindingnya. Hal berbeda sekali dengan pembuatan rumah yang dimulai dengan pembuatan dinding kemudian dicor pada bagian dasarnya. Biasanya dalam pembuatan bangunan kerangka menggunakan besi namun pada pembuatan kolam kerang yang digunakan adalah berasal dari bambu. Jika kerangka menggunakan besi maka dikawatirkan akan cepat mengalami korosi karena adanya salinitas air yang tinggi.  Sehingga penggunaan bammbu ini selain mengirit biaya menjaga kekuatan kolam agar tidak mudah korosi. Bagian atap menggunakan fiberglaas untuk menjaga kestabilan suhu. Jika suhu perairan stabil maka akan menghindari terjadinya serangan jamur. Kombinasi atap adalah dengan 60% atap fiber dan 40 % atap esbes. Dinding kolam dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah mengalami kebocoran. Dalam satu unit hatchery tersebut terdapat beberapa bak yaitu bak larva, bak pakan alami dan bak treatment air. Sumber air yang digunakan adalah dari air laut yang dipompa masuk kedalam bak-bak treatment. Air tersebut kemudian ditreatment. Terdapat 3 filter yang digunakan dalam treatment air sebelum amsuk ke dalam bak-bak budidaya yaitu filter mekanis, kimiawi, dan mekanis.
Terdapat beberapa komudiatas yang dibudidayakan yaitu kerapu macan dan tikus dan udang. Budidaya yang diterapkan adalah dengan mengambil larva dari Balai pecaron kemudian melakukan pendederan untuk ukuran budidaya pembesaran. Maka dari itu sebenarnya usaha yang dilakukan oleh Hatchery Pak Abdul Rahman cukup efisien dan menguntungkan. Pakan yang digunakan untuk pemeliharaan larva adalah pakan alami berupa mikroalga (Clorella) dan artemia. Pakan-pakan tersebut dikultur sendiri di bak kultur pakan alami. Clorella dipersiapkan selama 7 hari sebelum diberikan pada larva. Biasanya untuk pengkayaan clorella dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk anorganik.
Kendala yang sering muncul adalah adanya perubahan lingkungan yang mendadak (suhu) dan kebersihan sarana dan prasarana. Perubahan suhu yang mendadak ini akan mengakibatkan kematian pada udang yang telah di budayakan. Sedangkan kebersihan sarana menjadi penting karena akan mempengaruhi SR ikan. Seperti yang terjadi ketika ada kematian yang mendadak pada larva yang baru menetas. Kematian tersebut disebabkan karena selang aerasi yang digunakan tidak dibersihkan. Akibatnya terjadi kematian masal.

F.       IPU Gelung
IPU Gelung merupakan salah satu unit budidaya yang bergerk dalam pembenihan khususnya udang vanamei. IPU gelung memiliki system budidaya yang cukup modern. IPU Gelung ini nantinya diharapkan akan mampu mensuplai bibit-bibit udang vanamei yang berkualitas baik dan tahan terhadap serangan penyakit. IPU Gelung merupakan dikhususkan untuk penelitian mengenai udnag vanamei dan tidak untuk produksi komersil.
System budidaya yang diterapkan sangat modern dengan system intensis dan close system untuk airnya. Tidak hanya itu, biosecurity diterapkan untuk menjaga khualitas dan adanya serangan penyakit dari berbagai carier. Dalam system airnya menggunakan system aliran yang memutar agar tidak ada titik mati pada sudut kolam. Tidak hanya itu dilakukan oksigenasi untuk meningkatkan kadar oksigen perairan. Bak kolam terbuat dari polietiline yang memiliki daya tahan lama dan biasanya digunakan untuk budidaya tambak. System treatment air yang masuk dan keluar cukup ketat. Tujuannya agar air yang masuk maupun keluar tidak tercemar oleh perubahan lingkungan.


III.             PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Teknik budidaya perairan payau yang diterapkan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo pada dasarnya sama dngan teori yang ada di kuliah. Sehingga dapat dikatakan bahwasanya budididaya yang diterapkan tergolong cukup baik
2.      Pengetahuan mengenai budidaya perairan payau dan laut di Situbondo sangat member manfaat khususnya untuk masa depan jika terjun langsgung di lapangan
B.     Saran
1.      Kegiatan Kunjunganjadwalnya tidak menentu. Sehingga praktikan bingung apa yang akan dikunjungi. Sebaiknya untuk praktikum ke depan jadwal lebih detail agar memudahkan praktikum













Daftar Pustaka
Afero, F. 2005. Analisa ekonomi budidaya kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dalam keramba jaring apung di Indonesia. Dinas
Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh, Banda Aceh
Anonim. 2002. Buku Petunjuk Teknis Budidaya Laut (ikan Kerapu). Kementerian Kelautan dan Perikanan RI
Anonim. 2002. Kumpulan SNI Bidang Pembudidayaan. Ditjen Perikanan Budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan RI
Anonym 2010. Budidaya Kerapu Macan Dalam Keramba Jaring Apung. Jurnal Budidayaku.blogspot.com
Anonim 2011. Budidaya kerapu macan. Aquacultur ku. Blogspot.com.
Aslan L., 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius, Yogyakarta
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, 2007. Grand Strategi Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Sulawesi Tengah, Palu
FAO Fisheries Department (2003) World Fisheries and Aquaculture Atlas. CD-ROM. Rome, FAO. 2nd ed.
Kelauatan dan Perikanan dalam angka. 2011. Potensi dan Sumberdaya Alam Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikan RI
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. 2011. Hasil Ekspor Indonesia tahun 2010. Kementerian Kelautan dan Perikanan RI
Minjoyo, H., Yowono, P., Budi, K., 2007. Penggelondongan Kerapu Kertang (Epinephelus lanceolatus) Dengan Padat Tebar Berbeda di Bak Terendali. Penelitian di Balai Besar Budidaya Laut Lampung
Muslim, A.B. dkk. 2009. Pemeliharaan Larva Kerapu Kertang (Epinephelus spp.) Dari Panti Pembenihan. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Malang.
Puja, Y., Kurnia, B., Prihaningrum, A., dan Minjoyo, H. 2006 Pendederan Kerapu Kertang Kertang (Epinephelus lanceolatus) di Bak Terkendali. Buletin Budidaya Laut No.20 tahun 2006
Tave, D. 1988. Genetic for Fish Hatchery Managers.
Tim Balai Budidaya Laut Batam. 1999. Pembenihan Bawal Bintang (Trachinotus blochii, Lecepede). Balai Budidaya Laut Batam – Departemen Kelautan dan Perikanan. Batam.
Wyban, J.A. dan Sweeney, J. N. 1991. Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawai. USA.























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar