WpMag

Rabu, 11 Juli 2012

JALAN YANG AKU PILIH


 JALAN YANG AKU PILIH


Ketika aku berjalan sendirian, ditengah belantara kehidupan banyak sekali kisah yang dapat dituliskan. Aku telusuri jalan ini, jalan terjal penuh arti. Disetiap tikungan, disetiap perempatan, ada saja kejadian yang berarti. Sungguh hidup ini unik. Dikala hati sepi, ada pengisi. Dikala hati luang ada yang membawa kedamaian. Dikala kita sedih, ada yang membelai dengan senyuman dan kehangatakan serta mengatakan “semangat”. Terus kita disajikan dengan berbagai aneka keindahan dunia. Terus diberi dengan segala kemudahan oleh Tuhan. Terus kita dapat mencicipinya, menikmatinya, dan merasakannya. Tuhan pun berseru “ Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kau dustakan”. Sungguh betapa besar nikmat yang diberikan Tuhan.  

Aku masih saja berjalan, dalam belantara kehidupan. Banyak…dan banyak sekali kisah itu. ketika banyak sekali orang didekatku mengatakan padaku, kenapa kau pilih jalan itu. Hidup didunia ini sebentar, nikmati saja. Aku diam. Ketika banyak orang mencaciku dengan jalan ini. Aku diam, walaupun kadang aku menjawab “inilah jalanku”. Biarlah, biarlah mereka tahu. Jikalau pun jalan ini salah, aku pasrahkan pada Tuhan. Ini adalah jalanku. Jalan terjal penuh liku-liku. Disetiap simpangan ada yang menggoda dengan rayuannya. Disetiap perempatan ada yang memanggil dengan senyum indahnya. Namun inilah jalanku, jalan yang penuh risiko. Tak usah kau sedu sedan itu. Biarlah aku menanggungnya. Jika ada orang yang bertanya “siapa yang menunjukimu jalan itu?”. aku akan menjawab “ibuku”. Iya Ibuku, ibu yang mengandungkung 9 bulan diperutnya. Bertambah berat tiap waktu, tiap saat. Namun ibu tak pernah mengeluh tak pernah pun me “ngundat-ngundat”. Ibu adalah pelita hidupku. Ibu yang selalu berada di depan  ketika jalan itu gelap kemudian meneranginya. Ibu yang selalu berada di belakang ketika aku tak dapat berjalan dan kemudian merangkulnya.Ibu yang selalu sabar dengan anak-anaknya. Ibu yang tak pernah marah dan menjewer anaknya yang nakal ini.

Dan pada akhirnya waktulah yang akan menjawab semua ini. jalan yang aku pilih ini. Akupun mulai diam, ditengah pagi yang datang. Dinginnya embun yang turun, nyamuk yang masih berkeliaran tak mengurungkanku untuk menatap masa depan.  Ku tuliskan ini semua sebagai wujud ekspresi jalan yang aku pilih.
sak bejo-bejone wongkang lali, iseh luwih bejo wongkang eling lanwaspodo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar